Hipotesis nebula
Teori pembentukan tata surya Nebula terdapat dua versi, berdasarkan Immanuel Kant dan Pierre Simon de Laplace. Keduanya berpendapat kalau tata surya berasal dari kabut gas panas.
Gue akan uraikan proses pembentukan tata surya menurut teori kabut Kant-Laplace, satu persatu di bawah ini.
– Teori Nebula Immanuel Kant
Menurut Immanuel Kant, tata surya terbentuk dari kabut gas bersuhu panas yang berotasi lambat. Saat berotasi lambat, massa jenis kabut semakin tinggi dan membentuk inti di berbagai tempat.
Inti panas yang berada di tengah bersuhu paling panas dan berpijar menjadi matahari, sementara inti di tepinya mendingin lalu menjadi planet.
– Teori Nebula Pierre Simon de Laplace
Nah, tadi kan Bapak/Ibu Guru udah tau nih kalo menurut Kant, terus bagaimana teori perkembangan tata surya menurut Laplace?
Menurut Pierre Simon de Laplace, tata surya berasal dari kabut gas bersuhu panas yang berotasi cepat. Terus, sebagian materi bola gas terlempar. Gas yang terlempar mendingin menjadi planet sedangkan bola gas di awal berpijar dan menjadi matahari.
Teori pembentukan tata surya menurut Laplace dianalogikan seperti saat seorang ice skater menarik tangannya sambil berputar dan kecepatannya terus meningkat.
Karena terus berputar, jika dilihat posisi ice skater akan membentuk piringan. Hal ini serupa dengan apa yang terjadi dengan kabut gas panas saat berotasi dan membentuk tata surya.

Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688–1772)[6] tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant (1724–1804) pada 1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace[7] secara independen pada tahun 1796. Hipotesis ini, yang lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Laplace, menyebutkan bahwa pada tahap awal, Tata Surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula, dan unsur gas yang sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas, dan akhirnya menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari raksasa terus menyusut dan berputar semakin cepat, dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling Matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam dan planet luar. Laplace berpendapat bahwa orbit berbentuk hampir melingkar dari planet-planet merupakan konsekuensi dari pembentukan mereka.[8]
